Articles

Program STG (Sampah Tidak Gratis): Sebagai Strategi Menuju Generasi Indonesia Emas yang Berkelanjutan (Green Jobs for Green Indonesia)

Target Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada bonus demografi, tetapi juga pada peningkatan kesadaran lingkungan dan penciptaan lapangan kerja hijau. Gagasan program Sampah Tidak Gratis (STG) menawarkan pendekatan pengelolaan limbah terpadu yang melibatkan generasi muda dan masyarakat, sekaligus membuka peluang green jobs melalui unit operasional berbasis komunitas. Konsep ini diposisikan sebagai pelengkap kebijakan nasional untuk memperkuat ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan. 👉 Baca selengkapnya untuk memahami konsep, mekanisme, dan potensi dampak program STG menuju Indonesia Emas 2045.

Tahun 2045, Indonesia menargetkan mencapai status negara maju dengan semboyan Generasi Indonesia Emas 2045. Hal ini akan sangat didukung dengan bonus demografi yang diprediksi dimiliki oleh Indonesia tahun 2045. Namun, tantangan kesadaran lingkungan dan sosial masih menjadi hambatan besar. Salah satu solusi inovatif adalah menciptakan program dapur STG (Sampah Tidak Gratis) yang dapat menciptakan Green Jobs dan meningkatkan kesadaran lingkungan generasi muda dan masyarakat. Inovasi program ini terinspirasi dan dikaitkan dengan program MBG (Makan Bergizi Gratis), yang mana program ini untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda. Sedangkan, program STG (Sampah Tidak Gratis) selain dapat menciptakan Green Jobs juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda ataupun masyarakat akan pentingnya kesadaran lingkungan dan pengelolaan sampah. Dengan demikian, pengadaan dapur STG (sebagaimana dapur MBG) dengan unit operasional SPPL (Satuan Pelayanan Penghijauan Lingkungan) dapat menjadi salah satu upaya mencapai Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing global pada tahun 2045.


Pengurangan Sampah Melalui Pengolahan Limbah

Konteks dalam dunia global saat ini, pengelolaan limbah dan tantangan lingkungan menjadi semakin penting. Pengelolaan limbah ini menjadi fokus yang krusial karena telah berdampak terhadap perubahan iklim, polusi udara dan air, serta meningkatnya kekhawatiran tentang kelangkaan sumber daya alam dan defisiensi energi (Segrè & Ghedini, 2022).Integrated Sustainable Waste Management (ISWM) atau pengelolaan sampah berkelanjutan yang terintegrasi adalah pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya sampai kepada pengelohan atau pembuangan akhir (Aminah et al, 2021). Sedangkan menurut Van de Klundert dan Anschutz (2001) dalam Wilson et al (2015), ada tiga dimensi utama yang dapat diintegrasikan dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan, yaitu (1) stakeholders, (2) elemen sistem limbah, dan (3) aspek strategis. Selain tiga dimensi tersebut, kebijakan pengelolaan sampah di setiap negara juga menjadi landasan dalam pendekatan pengelolaan sampah berkelanjutan. Menurut Scheinberg (2010) dalam Mahyudin (2014) Integrated Sustainable Waste Management atau pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan terintegrasi fokus pada pengelolaan sampah sebagai multi aktor, kesepakatan multi lapisan sistem sosial teknik.


Sistem pengelolaan dan recycling methods atau memanfaatkan kembali sampah yang masih dapat digunakan serta yang masih mempunyai nilai ekonomi, merupakan salah satu cara penanganan dan pengelolaan sampah yang paling banyak digunakan oleh negara-negara maju di Uni Eropa seperti di Jerman. Program ini menjadikan pengelolaan sampah yang terkendali dan efisien. Hampir di setiap super market/toko serba ada di Jerman menyediakan mesin penyedia sampah yang bisa dimanfaatkan kembali seperti sampah plastik, botol, kaca dan sebagainya. Setiap 1 (satu) buah sampah plastik seperti botol bisa ditukar dengan 25 –50 € cent (tergantung ukuran). Hal ini terbukti sangat efektif mengurangi jumlah sampah, khususnya sampah plastik (Mahyudin, 2014).

Banyak penelitian yang telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia dalam pengelolaan limbah sampah yang dapat dimanfaatkan sebagai produk yang bernilai ekonomis. Sedangkan sampah organik dari limbah yang tersebar di berbagai daerah ekowisata seperti eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan dengan memproduksi biogas.


Pengelolaan limbah merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan kesadaran lingkungan dan nilai ekonomis bagi masyarakat dan generasi muda. Dengan pengelolaan limbah yang efektif, kita dapat mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan menciptakan peluang ekonomi baru. Pengelolaan limbah yang tidak tepat dapat menyebabkan berbagai masalah lingkungan, seperti polusi air, udara, dan tanah. Limbah yang tidak diolah dengan baik dapat juga menyebabkan penyebaran penyakit dan gangguan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan limbah yang efektif sangat penting untuk menjaga lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.


Pengelolaan limbah dapat memberikan berbagai manfaat, seperti:


  1. Meningkatkan Kesadaran Lingkungan: Pengelolaan limbah dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi dampak negatif limbah.
  2. Menciptakan Peluang Ekonomi: Pengelolaan limbah dapat menciptakan peluang ekonomi baru, seperti pengolahan limbah menjadi produk yang bernilai ekonomis.
  3. Meningkatkan Kualitas Hidup: Pengelolaan limbah dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan mengurangi polusi dan gangguan kesehatan.
  4. Mengurangi Dampak Perubahan Iklim: Pengelolaan limbah dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim.


Peran Penting Generasi Muda Dalam Pengolahan Limbah

Masyarakat dan generasi muda memiliki peran penting dalam pengelolaan limbah. Mereka dapat berperan sebagai:


  1. Pengawas Lingkungan: Masyarakat dan generasi muda dapat berperan sebagai pengawas lingkungan dengan memantau dan melaporkan kegiatan pengelolaan limbah yang tidak tepat.
  2. Pengolah Limbah: Masyarakat dan generasi muda dapat berperan sebagai pengolah limbah dengan mengolah limbah menjadi produk yang bernilai ekonomis.
  3. Pendidik Lingkungan: Masyarakat dan generasi muda dapat berperan sebagai pendidik lingkungan dengan meningkatkan kesadaran lingkungan di masyarakat.


Inovasi pengelolaan limbah dapat membantu meningkatkan kesadaran lingkungan dan nilai ekonomis bagi masyarakat dan generasi muda. Beberapa inovasi pengelolaan limbah yang dapat dilakukan, seperti:


  1. Pengolahan Limbah menjadi Produk Bernilai Ekonomis: Pengolahan limbah menjadi produk yang bernilai ekonomis, seperti pengolahan limbah plastik menjadi produk daur ulang.
  2. Penggunaan Teknologi Hijau: Penggunaan teknologi hijau, seperti teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan.
  3. Pengembangan Sistem Pengelolaan Limbah Terpadu: Pengembangan sistem pengelolaan limbah terpadu yang melibatkan masyarakat dan generasi muda.


Dengan demikian, pengelolaan limbah dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan kesadaran lingkungan dan nilai ekonomis bagi masyarakat dan generasi muda. Oleh karena itu, kita harus terus meningkatkan kesadaran dan inovasi pengelolaan limbah untuk mencapai lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan.


Sampah Tidak Gratis Solusi Jitu Mengurangi Sampah

Berkaitan dengan hal tersebut, penulis berinovasi dan menggagas sebuah ide untuk mengadakan dapur STG (Sampah Tidak Gratis). Program STG (Sampah Tidak Gratis) ini terinspirasi dari program yang sudah dijalankan oleh Pemerintah yaitu program MBG (Makan Bergizi Gratis). Program MBG yang dijalankan pemerintah dibawah naungan Kementrian BGN (Badan Gizi Nasional) dan juga berkoordinasi dengan Kementrian lainnya, seperti Kemendikdasmen dan Kemenkes. Jika pada program MBG pemerintah berani mengalokasikan dana triliunan rupiah untuk Dapur MBG dan tim SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Dimana unit operasional ini bertugas untuk memastikan standar makanan bergizi, juru masak, juru gizi, juru cuci dan lainnya.


Sejalan dengan program tersebut, inovasi program STG (Sampah Tidak Gratis) dalam bidang penghijauan lingkungan dapat dijadikan program yang dinaungi oleh Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK). Program STG ini diharapkan dapat menjadikan Indonesia yang lestari dan berkelanjutan untuk menyongsong Indonesia emas 2045. Apabila program MBG memiliki dapur MBG yang dioperasikan dan dimanageri oleh tim SPPG, program STG dapat mengadakan dapur STG dan membentuk tim SPPL (Satuan Pelayanan Penghijauan Lingkungan). SPPL bertugas dan bertanggungjawab dalam mengambil sampah dari pemuda/masyarakat sekitar dengan memberikan harga dari sampah yang disetor/dijual oleh generasi muda (siswa/mahasiswa/lainnya) dan masyarakat sekitar sesuai dengan kuantitas dan kualitas sampahnya.


Tim SPPL (Satuan Pelayanan Penghijauan Lingkungan) dapat menyebar ke berbagai daerah, sekolah, kampus, maupun tempat pariwisata dan ekowisata yang ada pada jangkauan masing-masing dapur STG. Setelah tim penjemput sampah mengambil sampah dari berbagai titik pengambilan sampah. Di dapur STG, sampah akan dikumpulkan dan dikelola oleh masing-masing tim pengelola sampah. Tim 1 untuk pengelolaan sampah organik yang mungkin dapat diolah menjadi pupuk/biogas/lainnya. Sedangkan Tim pengelola sampah anorganik dapat mengolah sampah menjadi berbagai produk daur ulang/kerajinan/lainnya yang bernilai guna dan bernilai jual. Selain membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan generasi muda sekitar dapur STG, produk hasil pengelolaan sampah dapat meningkatkan ekonomi hijau bagi masyarakat sekitar. Bumi nyaman, kantong aman.


Setiap daerah dapur STG yang memiliki ekowisata pantai/danau/bendungan yang dimana banyak sampah sabut batok kelapa, eceng gondok yang tumbuh liar, dan sampah lainnya yang dapat dimanfaatkan dan diolah oleh tim SPPL di dapur STG. Sedangkan di sekolah, kampus, dan tempat umum lainnya mungkin banyak masyarakat/anak muda yang menyetor/menjual sampah plastik. Pengkhususan untuk limbah sampah rumah tangga dapat diadakan sosialiasi terlebih dahulu oleh tim SPPL di masig-masing kantor desa agar setiap rumah tangga di edukasi untuk memilah dan membedakan tempat membuang sampah organik dan anorganik. Begitupun masyarakat di sekitar bantaran sungai dapat menyetor/menjual sampah yang tercemar dan tersebar di wilayah sungai. Harga sampah yang sudah tidak layak tentunya dihargai lebih murah per/kg (mungkin 1 rbu rupiah per/kg) sampah yang dijual. Kemudian sampah yang memang tidak layak tersebut nanti akan dikelola/dibuang pada tempat pembuangan akhir oleh tim SPPL (Satuan Pelayanan Penghijauan Lingkungan).


Untuk mencapai Indonesia yang berkelanjutan, pemerintah harus berani mengeluarkan dana untuk menjalankan program-program yang efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Program Sampah Tidak Gratis (STG) ini dapat meningkatkan kesadaran lingkungan dan pengelolaan sampah, pengelolaan limbah terpadu yang melibatkan masyarakat dan generasi muda, penggunaan teknologi hijau untuk pengolahan limbah yang ramah lingkungan serta pendidikan lingkungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan demikian, pemerintah dapat menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mencapai Indonesia berkelanjutan.


Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengadaan program dapur STG (Sampah Tidak Gratis) merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah untuk menciptakan Green Jobs menuju Generasi Indonesia Emas yang berkelanjutan.


Penulis: Zelisa Nudia Fitri


DAFTAR PUSTAKA


  1. Aminah, Nabila Z.N & Muliawati, Adina. (2021). Pengelolaan Sampah dalam Konteks Pembangunan Berkelanjutan (Waste Management in the Context of Waste). PKM STIE Bisnis Indonesia 41 Management.
  2. Klundert, Arnold & AnschĂĽtz, Justine. (2001). Integrated Sustainable Waste Management the Concept. WASTE. Nieuwehaven: 201-2801, CW Gouda. The Netherlands.
  3. Mahyudin, Rizqi P. (2014). Strategi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan. Enviro-Scienteae :10 (2014) 33-40. ISSN 1978-8096.
  4. Segrè, G., & Ghedini, B. (2022). Beyond Home Waste: Exploring The Global Expansion in the Waste Management Sector.
  5. Wilson, David C; Rodic, Ljiljana; Cowing, Michael J; Velis, Costas A; Whiteman, Andrew D; Scheinberg, Anne; Vilches, Recaredo; Masterson, Darragh; Stretzt, Joachim & Oelz, Barbara. (2015). Wasteaware Benchmark Indicators for Integrated Sustainable Waste Management in Cities. Waste Mangement Journal. Vol.35:329-342.