Articles

Dari Analisis Niat Beli Konsumen hingga Prospek Masa Depan Green Jobs

Dorongan menuju ekonomi berkelanjutan mendorong munculnya green jobs sebagai bagian dari transformasi dunia kerja. Di sektor pangan, khususnya peternakan ayam organik, perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan produksi ramah lingkungan, tetapi juga dengan perilaku konsumen, niat beli, dan kesiapan pasar. Artikel ini menelaah keterkaitan antara kesadaran kesehatan, kepedulian lingkungan, serta dinamika pasar dalam mendukung pengembangan green jobs berbasis data empiris. 👉 Baca selengkapnya untuk memahami peran perilaku konsumen dan peluang green jobs di sektor pangan berkelanjutan.

Adanya tantangan terkait dengan krisis iklim global dan urgensi keberlanjutan sehingga menghadirkan green jobs. Istilah green jobs atau pekerjaan hijau telah bertransformasi menjadi pilar utama dalam merancang masa depan ekonomi yang ramah lingkungan. Green jobs bukan lagi sekadar jargon kebijakan, melainkan cerminan dari perubahan paradigma dunia kerja yang berorientasi pada keberlanjutan dan tanggung jawab ekologis. Green jobs didefinisikan sebagai pekerjaan yang secara langsung atau tidak langsung berkontribusi pada perlindungan lingkungan, pengurangan emisi karbon, peningkatan efisiensi energi, serta pelestarian sumber daya alam. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah dunia kerja saat ini telah benar-benar siap mengakomodasi transisi menuju ekonomi hijau secara adil dan inklusif? Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta ketimpangan sosial akibat eksploitasi sumber daya alam, green jobs hadir sebagai solusi strategis yang menghubungkan dua kebutuhan utama manusia, yaitu pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekologi. Pengembangan green jobs tidak hanya penting sebagai respons terhadap krisis lingkungan, tetapi juga sebagai upaya membangun sistem ekonomi yang lebih etis, berkelanjutan, dan berpihak pada generasi mendatang. Bagi generasi muda, pemilihan karier kini tidak lagi semata-mata tentang penghasilan, melainkan tentang makna dari pekerjaan itu sendiri bagaimana pekerjaan tersebut mampu memberikan kontribusi nyata bagi planet dan kehidupan sosial.


Namun, keberlanjutan sektor hijau tidak dapat tumbuh hanya berdasarkan idealisme. Hal ini memerlukan pemahaman empiris tentang pasar, perilaku konsumen, dan dinamika sosial yang mendasari keputusan pembelian terhadap produk-produk ramah lingkungan. Di sinilah peran riset ilmiah menjadi sangat penting. Green jobs harus dirancang berdasarkan data yang mampu menggerakkan niat beli konsumen, memperkuat ekosistem bisnis hijau, dan menjamin keberlanjutan ekonomi lokal. Untuk itu, penelitian ini mengambil kasus spesifik pada niat beli (purchase intention) konsumen terhadap telur ayam organik di Kota Bogor. Produk telur organik dipilih karena mewakili salah satu sektor penting dalam rantai pangan berkelanjutan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Selain memiliki nilai ekonomi, produk ini juga menjadi simbol perubahan gaya hidup masyarakat menuju konsumsi yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Masyarakat saat ini menunjukkan peningkatan kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan, yang dipicu oleh kemajuan teknologi informasi sehingga mempermudah akses pengetahuan mengenai dampak gaya hidup tidak sehat serta risiko dari sistem pangan konvensional. Informasi yang semakin terbuka membuat konsumen lebih kritis dalam memilih pangan, khususnya pangan asal hewan, yang dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan jangka panjang. Salah satu sistem pangan yang mendapat perhatian besar adalah praktik peternakan intensif.


Praktik peternakan intensif umumnya menggunakan hormon sintetis, antibiotik secara berlebihan, serta manajemen kebersihan yang kurang optimal. Kondisi tersebut menimbulkan berbagai risiko kesehatan yang serius bagi konsumen, seperti gangguan kesuburan, meningkatnya resistensi antimikroba, serta potensi kontaminasi mikroba pada produk ternak (Hirpessa et al., 2020; Arsi dan Donoghue, 2017). Risiko ini menjadi perhatian utama karena dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kualitas kesehatan masyarakat.


Selain berdampak pada kesehatan manusia, sistem peternakan intensif juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Aktivitas peternakan konvensional berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim (Widiawati et al., 2019). Limbah peternakan juga berpotensi mencemari tanah dan sumber daya air, serta menyebabkan degradasi lingkungan di sekitar wilayah produksi. Di samping itu, sistem ini sering dikaitkan dengan penurunan kesejahteraan hewan akibat keterbatasan ruang gerak dan kondisi pemeliharaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan alami ternak (Rondoni et al., 2020).


Berbagai permasalahan tersebut mendorong masyarakat untuk beralih pada gaya hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan, salah satunya melalui konsumsi produk organik. Produk organik dipersepsikan lebih aman bagi kesehatan, lebih ramah lingkungan, serta selaras dengan prinsip keberlanjutan. Pergeseran preferensi ini mencerminkan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap hubungan antara pola konsumsi, kesehatan manusia, dan kelestarian lingkungan.

Telur ayam organik menjadi salah satu produk pangan organik yang cukup populer di tengah perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Produk ini dinilai memiliki nilai gizi yang tinggi serta dihasilkan melalui sistem produksi yang lebih ramah lingkungan dan mendukung kesejahteraan hewan. Dari perspektif gizi, telur ayam organik memiliki kualitas yang lebih unggul dibandingkan telur ayam konvensional.


Profil lemak telur ayam organik cenderung lebih seimbang dan menyehatkan, dengan kandungan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) dan omega-3 yang lebih tinggi, serta rasio omega-6 terhadap omega-3 yang lebih ideal, meskipun kandungan asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) sedikit lebih rendah dibandingkan telur konvensional (Baykalir et al., 2020). Selain itu, telur ayam organik dilaporkan mengandung vitamin A dan vitamin D dalam jumlah yang lebih tinggi (Zakaria et al., 2023).


Keunggulan nutrisi telur ayam organik juga terlihat pada kandungan proteinnya. Kuning telur organik memiliki kadar protein tertinggi, yaitu sebesar 17,7 g per 100 g, sementara putih telurnya juga unggul dengan kandungan protein sebesar 13,0 g per 100 g. Selain protein, putih telur organik mengandung mineral penting seperti kalium sebesar 134,7 mg/kg dan tembaga sebesar 0,15 mg/kg (Filipiak-Florkiewicz et al., 2017). Berbagai keunggulan ini memperkuat persepsi bahwa telur ayam organik merupakan sumber pangan hewani yang lebih berkualitas.


Seiring dengan meningkatnya kesadaran kesehatan dan kepedulian lingkungan, tren konsumsi telur ayam organik di Indonesia, termasuk di Provinsi Jawa Barat, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kondisi ini mengindikasikan adanya peluang besar dalam pengembangan telur ayam organik, baik dari sisi produksi maupun pemasaran (AOI, 2023). Namun demikian, peningkatan konsumsi tersebut perlu didukung oleh pemahaman yang komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi niat pembelian konsumen.


Meningkatnya minat terhadap pangan organik menuntut produsen dan pemangku kepentingan untuk memahami perilaku konsumen secara lebih mendalam. Perilaku konsumen mencerminkan gaya hidup, nilai, dan karakteristik individu yang memengaruhi keberhasilan suatu produk dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Salah satu aspek penting dalam perilaku konsumen adalah niat pembelian, yang berperan sebagai indikator awal perilaku aktual dan menjadi prediktor utama dalam menjelaskan keputusan pembelian (Rana & Paul, 2017; Ajzen, 1991).


Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikembangkan oleh Ajzen (1991) merupakan salah satu kerangka teoretis yang paling banyak digunakan untuk memahami niat pembelian. Teori ini menjelaskan bahwa niat perilaku dipengaruhi oleh tiga konstruk utama, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Meskipun TPB terbukti cukup akurat dalam memprediksi berbagai jenis perilaku, beberapa penelitian menunjukkan bahwa model ini belum sepenuhnya mampu menjelaskan alasan konsumen membeli produk organik (Teo et al., 2016).


Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, TPB kemudian dikembangkan menjadi extended Theory of Planned Behavior (E-TPB) dengan menambahkan variabel-variabel yang relevan, seperti kesadaran kesehatan dan kepedulian lingkungan (Carfora et al., 2019; Yazdanpanah & Hasheminezhad, 2016). Dalam konteks konsumsi pangan organik, kesadaran kesehatan dan kepedulian lingkungan dipandang sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi atau memperkuat niat pembelian, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui mekanisme psikologis yang dijelaskan dalam TPB (Liang et al., 2024; Li & Shan, 2025).

Berdasarkan kondisi tersebut, analisis mengenai pengaruh kesadaran kesehatan dan kepedulian lingkungan terhadap niat pembelian telur ayam organik menjadi penting untuk dilakukan, khususnya dalam mendukung perancangan strategi pemasaran yang efektif dan berkelanjutan.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kesadaran kesehatan dan kepedulian lingkungan tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap niat pembelian telur ayam organik di Kota Bogor. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran konsumen terhadap isu kesehatan dan lingkungan belum secara otomatis diterjemahkan menjadi niat untuk membeli produk telur ayam organik.


Sebaliknya, sikap terhadap perilaku dan persepsi kontrol perilaku terbukti berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian telur ayam organik. Hal ini mengindikasikan bahwa niat konsumen lebih dipengaruhi oleh evaluasi positif terhadap produk serta persepsi mengenai kemudahan dan kemampuan untuk memperoleh telur ayam organik. Sementara itu, norma subjektif tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap niat pembelian, yang mengindikasikan bahwa tekanan sosial belum menjadi faktor dominan dalam keputusan pembelian telur ayam organik di Kota Bogor.


Berdasarkan hasil Importance-Performance Map Analysis (IPMA), dapat disimpulkan bahwa kepedulian lingkungan dan persepsi kontrol perilaku merupakan variabel prioritas yang perlu ditingkatkan untuk mendorong niat pembelian telur ayam organik di Kota Bogor. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan konsumsi telur ayam organik memerlukan pendekatan yang tidak hanya menekankan aspek kesehatan dan lingkungan, tetapi juga berfokus pada pembentukan sikap positif serta peningkatan persepsi kemudahan akses produk. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi produsen dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan strategi pemasaran dan edukasi konsumen yang lebih efektif dan berkelanjutan.


Temuan penelitian menunjukkan bahwa green jobs tidak hanya dimaknai sebagai penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga sebagai proses transformasi pekerjaan konvensional menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Dalam konteks sektor peternakan ayam organik, konsep ini membuka peluang besar bagi pengembangan berbagai jenis pekerjaan hijau yang mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus pertumbuhan ekonomi. Profesi seperti peternak ayam organik profesional memiliki peran strategis dalam menerapkan sistem produksi ramah lingkungan, penggunaan pakan alami, serta pengelolaan limbah organik secara efisien dan bertanggung jawab.


Selain itu, meningkatnya permintaan terhadap produk hijau mendorong kebutuhan akan spesialis sertifikasi dan standarisasi produk, khususnya untuk memenuhi persyaratan sertifikasi organik, halal, serta ESG (Environmental, Social, and Governance). Perkembangan ini juga melahirkan peluang di bidang ecopreneurship dan pemasaran digital produk hijau, yang berperan dalam memperluas akses pasar melalui platform daring serta mempermudah konsumen dalam memperoleh produk ramah lingkungan.


Ke depan, profesi lain yang semakin relevan adalah konsultan rantai pasok hijau yang merancang sistem distribusi efisien dengan emisi karbon rendah, serta inovator teknologi pangan dan agritech yang mengembangkan solusi digital untuk meningkatkan transparansi dan kualitas rantai pasok. Seiring meningkatnya sikap positif konsumen dan persepsi kontrol perilaku terhadap produk hijau, hambatan terkait harga, logistik, dan aksesibilitas dapat diminimalkan melalui inovasi bisnis dan teknologi.


Keberlanjutan tidak lagi dipandang sebagai biaya tambahan, melainkan sebagai sumber nilai ekonomi baru. Kesediaan konsumen membayar lebih untuk produk organik menciptakan efek pengganda bagi perekonomian lokal. Dengan demikian, green jobs menjadi kebutuhan strategis dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon yang inklusif, berbasis data empiris, inovasi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.


Penulis: Ismawati