Articles
Dunia kerja tengah mengalami pergeseran seiring meningkatnya krisis iklim dan dorongan global menuju ekonomi hijau. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi sektor industri, tetapi juga cara generasi muda memandang karier, makna bekerja, dan kontribusi terhadap masa depan. Konsep green jobs hadir sebagai respons atas tantangan tersebut, menawarkan peluang kerja yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial. 👉 Baca selengkapnya untuk menelusuri transformasi dunia kerja, peran generasi muda, serta posisi green jobs sebagai arah baru pembangunan berkelanjutan.
Pernah nggak sih kamu buka LinkedIn dan lihat semua orang sibuk pamer “karier impian”? Ada yang baru dapat kerja di startup, ada yang pindah ke luar negeri, ada juga yang bikin bisnis digital sendiri. Tapi coba bayangkan kalau Bumi juga punya akun LinkedIn, kira-kira pekerjaannya apa yang lagi trending? Mungkin bukan “Marketing Specialist” atau “Software Engineer”, tapi “Penyelamat Sungai”, “Ahli Energi Surya”, atau “Desainer Produk Ramah Lingkungan”.
Faktanya, dunia memang sedang membuka lebih banyak lowongan hijau dari sebelumnya. Menurut International Labour Organization (ILO), transisi menuju ekonomi hijau berpotensi menciptakan 24 juta lapangan kerja baru secara global pada tahun 2030. Di Indonesia sendiri, Kementerian Tenaga Kerja (2023) mencatat bahwa peluang green jobs akan tumbuh pesat di sektor energi terbarukan, pengelolaan sampah, pertanian berkelanjutan, dan pariwisata hijau. Tetapi sangat disayangkan, belum banyak anak muda yang melihat ini sebagai peluang karier masa depan. Padahal, bekerja di bidang hijau bukan hanya tentang “menyelamatkan planet”, tapi juga tentang menyusun ulang arti bekerja itu sendiri, mulai dari sekadar mencari penghasilan, menjadi bagian dari solusi.
Tapi mengapa green jobs bisa jadi topik yang sepenting itu? Jawabannya sederhana: karena masa depan dunia kerja sedang berubah dan Bumi sedang kehabisan waktu. Krisis iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah di ruang konferensi. Ia hadir di tengah keseharian kita: dari gagal panen di pedesaan, banjir yang makin sering di kota, sampai cuaca ekstrem yang mengganggu kesehatan dan produktivitas. Menurut laporan World Bank (2023), Indonesia diperkirakan akan kehilangan 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2045 jika dampak perubahan iklim tidak dikendalikan. Itu berarti jutaan pekerjaan terancam hilang, terutama di sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.
kabar baiknya, dari krisis itu justru muncul peluang. Transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya soal menanam pohon atau memakai sedotan bambu, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru yang menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Inilah yang disebut green jobs, merupakan pekerjaan yang membantu melindungi atau memulihkan lingkungan, sekaligus memberikan penghidupan yang layak. Konsep ini mulai naik daun secara global sejak ILO memperkenalkannya pada 2008, dan kini menjadi bagian dari peta jalan pembangunan berkelanjutan di banyak negara, termasuk Indonesia. bagi generasi muda, green jobs bukan hanya “tren kerja masa depan”, tetapi kesempatan untuk membuat karier yang relevan dengan nilai zaman, karier yang bukan sekadar bergengsi, tapi juga berdampak.
Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana lowongan kerja di media sosial mulai berubah?
Dulu, judul-judulnya penuh kata “marketing,” “finance,” atau “sales.” Sekarang, pelan-pelan muncul istilah baru: climate analyst, sustainability officer, eco-designer, hingga renewable energy engineer. Tanda-tanda kecil bahwa dunia kerja sedang berevolusi dan arah perubahannya jelas: menuju masa depan yang lebih hijau. Perubahan ini bukan sekadar urusan tren industri, tapi refleksi dari krisis global yang memaksa kita berpikir ulang tentang makna “kerja”. Bumi sedang kepanasan, laut menelan kota, dan musim tak lagi bisa ditebak. Di tengah situasi itu, muncul kesadaran baru: bekerja tak cukup hanya untuk hidup, tapi juga untuk membuat kehidupan tetap ada.
Di bagian ini, kita akan menelusuri bagaimana transisi besar ini terjadi, dari ekonomi yang dulu linear menuju ekonomi hijau, bagaimana generasi muda menjadi penggerak utamanya, dan mengapa green jobs bukan sekadar tren karier, melainkan bentuk tanggung jawab zaman.
Transformasi Dunia Kerja: Dari Linear ke Hijau
Selama puluhan tahun, dunia kerja kita berjalan dalam sistem yang disebut ekonomi linear “ambil, buat, buang”. Kita menambang bahan mentah, memproduksi barang sebanyak-banyaknya, lalu membuang sisanya ke alam tanpa sempat berpikir ke mana perginya limbah itu. Model ini sempat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi global. Tapi kini, bumi sedang menagih biayanya. Berdasarkan laporan UNEP (2022), aktivitas industri dan energi menyumbang lebih dari 70% emisi karbon global. Di Indonesia sendiri, data Bappenas (2023) menunjukkan bahwa tanpa transisi menuju ekonomi hijau, potensi kerugian akibat bencana iklim bisa mencapai Rp 544 triliun pada tahun 2050. Angka yang cukup besar untuk mengguncang stabilitas ekonomi dan lapangan kerja nasional.
Di balik ancaman itu, ada peluang yang sedang tumbuh. Konsep ekonomi hijau (green economy) kini mulai diadopsi di berbagai sektor, dari energi, pertanian, manufaktur, hingga pariwisata. Artinya, pekerjaan yang dulu dianggap “konvensional” perlahan berubah wajah. Petani belajar menanam dengan teknik regeneratif, pabrik mulai menerapkan sistem zero waste, desainer beralih ke bahan daur ulang, dan perusahaan energi membuka posisi baru untuk carbon accounting dan climate risk management. Transisi ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal cara berpikir. dari mengejar pertumbuhan tanpa batas, menjadi menumbuhkan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Laporan ILO (2023) memperkirakan bahwa transisi ke ekonomi hijau bisa menciptakan hingga 24 juta lapangan kerja baru secara global pada tahun 2030, asalkan negara-negara mampu mengelola perubahan dengan adil dan inklusif. Bagi Indonesia, peluang ini sangat nyata, terutama karena kita memiliki kekayaan alam, tenaga muda produktif, dan potensi energi terbarukan yang melimpah.
Perubahan arah ini menunjukkan satu hal penting: masa depan dunia kerja tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling cepat memproduksi, tapi siapa yang paling bijak mengelola sumber daya. Dan di titik inilah, green jobs menjadi bintang baru yang bersinar di peta ekonomi dunia.
Generasi Muda di Persimpangan Masa Depan
Setiap generasi punya tantangannya sendiri. Kalau dulu anak muda berjuang menuntut kemerdekaan atau reformasi, kini tantangan terbesar kita adalah menyelamatkan masa depan dari krisis iklim yang merupakan tantangan tak terlihat, tapi terasa di mana-mana. Di Indonesia, lebih dari 52% penduduk berusia di bawah 30 tahun (BPS, 2023). Itu berarti, masa depan ekonomi hijau bergantung pada pilihan generasi ini: apakah kita hanya jadi penonton perubahan, atau justru penggeraknya.
Anak muda hari ini tumbuh di era yang serba cepat dan sadar lingkungan. Kita terbiasa bicara tentang daur ulang, energi surya, gaya hidup berkelanjutan, atau bahkan carbon footprint, istilah yang mungkin asing bagi generasi sebelumnya. Namun, kesadaran saja tidak cukup. Kita juga perlu akses, keterampilan, dan peluang nyata untuk masuk ke dunia kerja hijau. Laporan ILO dan ASEAN Foundation (2023) menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda Asia Tenggara tertarik pada green jobs, tetapi 70% di antaranya merasa tidak memiliki keterampilan yang sesuai. Artinya, masih ada kesenjangan antara idealisme dan kesiapan. Di titik ini, peran lembaga pendidikan, sektor swasta, dan pemerintah menjadi krusial.
Kampus dan sekolah vokasi perlu menyesuaikan kurikulum dengan kompetensi hijau, seperti efisiensi energi, pertanian regeneratif, hingga ekonomi sirkular. Sementara dunia usaha perlu membuka ruang magang dan inovasi yang memberi pengalaman nyata, bukan sekadar teori. Di sisi lain, muncul juga gerakan akar rumput yang digerakkan oleh anak muda, seperti komunitas daur ulang kreatif, koperasi energi surya, hingga eco-startup yang mengolah sampah menjadi produk fesyen. Mereka membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari gedung tinggi atau kebijakan besar, tetapi juga dari tangan-tangan muda yang mau mencoba. Generasi muda kini berada di persimpangan, satu jalan menuju sistem lama yang cepat tapi merusak, dan satu lagi menuju masa depan hijau yang mungkin lebih sulit tapi jauh lebih bermakna. Pilihan itu ada di tangan kita. Dan mungkin, inilah saatnya anak muda berhenti sekadar menuntut perubahan, dan mulai bekerja sebagai bagian dari solusi.
Green Jobs: Tren atau Jalan Panjang?
“Green jobs” sering terdengar seperti kata ajaib baru di dunia kerja. Mulai dari perusahaan besar sampai startup kecil, semuanya berlomba menempelkan label green, eco, atau sustainable di identitas mereka. Tapi di balik gemerlap tren ini, muncul pertanyaan penting: apakah green jobs hanya “branding masa kini”, atau benar-benar jalan panjang menuju masa depan ekonomi yang adil dan lestari?
Menurut World Economic Forum (2024), sektor pekerjaan hijau global diperkirakan akan tumbuh tiga kali lebih cepat dibandingkan rata-rata lapangan kerja konvensional dalam sepuluh tahun ke depan. Namun, pertumbuhan ini tidak akan otomatis berkelanjutan jika hanya berhenti di level slogan. Bekerja di bidang hijau bukan sekadar “mengubah pekerjaan lama jadi lebih ramah lingkungan”, tapi soal membangun sistem kerja baru yang menempatkan manusia dan alam sebagai mitra setara. Contohnya terlihat di berbagai sektor seperti (1) pertanian, konsep regenerative farming mulai menggantikan cara tanam yang boros air dan pupuk, (2) industri energi, tenaga surya dan angin membuka lapangan kerja baru, dari teknisi panel hingga perancang sistem smart grid, dan (3) kreatif dan fesyen, muncul bisnis daur ulang dan upcycling yang membuktikan bahwa gaya hidup berkelanjutan bisa tetap keren. Untuk menjadikan green jobs sebagai jalan panjang, dibutuhkan tiga hal antara lain: (1) Kebijakan yang konsisten agar investasi hijau tidak sekadar proyek sesaat, (2) Pendidikan dan pelatihan hijau agar tenaga muda siap mengisi peran baru di sektor-sektor transisi, dan (3) Keadilan sosial dalam transisi agar tidak ada pekerja atau komunitas yang tertinggal di balik perubahan besar ini.
Indonesia punya peluang emas di sini. Dengan potensi energi terbarukan mencapai 442 gigawatt (ESDM, 2023) dan bonus demografi yang masih berjalan hingga 2040, kita bisa menjadikan green jobs bukan hanya cita-cita, tapi strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan. Karena kalau dipikir-pikir, pekerjaan hijau bukan tentang “mengikuti tren”, tapi tentang menyusun ulang cara kita hidup, bekerja, dan bermimpi. bukan mode sementara, melainkan arah sejarah baru yang sedang kita tulis bersama.
Pada akhirnya, green jobs bukan sekadar pilihan karier, tapi cermin dari arah baru peradaban kita. Dunia kerja sedang bertransformasi dari sistem linear yang eksploitatif menuju sistem hijau yang menumbuhkan keseimbangan. Di tengah perubahan ini, generasi muda punya peran kunci: menjadi penghubung antara kesadaran dan aksi, antara idealisme dan inovasi. Membangun masa depan hijau memang tidak mudah, tapi setiap Langkah dari ruang kelas, laboratorium, hingga komunitas lokal adalah bagian dari perjalanan besar menuju bumi yang lebih layak dihuni. Karena ketika bumi pulih, sesungguhnya manusialah yang sedang diselamatkan.
Penulis: Sofia Halim
DAFTAR PUSTAKA